Archive for the ‘Uncategorized’ Category

it is over@my room

Juli 27, 2008

Inilah esai Brian yang berjudul “Ruangan”.

Di antara sadar dan mimpi, aku menemukan diriku di sebuah ruangan. Tidak ada ciri yang mencolok di dalam ruangan ini kecuali dindingnya penuh dengan kartu-kartu arsip yang kecil. Kartu-kartu arsip itu seperti yang ada di perpustakaan yang isinya memuat judul buku menurut pengarangnya atau topik buku menurut abjad.

Tetapi arsip-arsip ini, yang membentang dari dasar lantai ke atas sampai ke langit-langit dan nampaknya tidak ada habis-habisnya di sekeliling dinding itu, memiliki judul yang berbeda-beda.

Pada saat aku mend eka ti dinding arsip ini, arsip yang pertama kali menarik perhatianku berjudul “Cewek-cewek yang Aku Suka”. Aku mulai membuka arsip itu dan membuka kartu-kartu itu. Aku cepat-cepat menutupnya, karena terkejut melihat semua nama-nama yang tertulis di dalam arsip itu. Dan tanpa diberitahu siapapun, aku segera menyadari dengan pasti aku ada dimana.

Ruangan tanpa kehidupan ini dengan kartu-kartu arsip yang kecil-kecil merupakan sistem katalog bagi garis besar kehidupanku. Di sini tertulis tindakan-tindakan setiap saat dalam kehidupanku, besar atau kecil, dengan rincian yang tidak dapat dibandingkan dengan daya ingatku. Dengan perasaan kagum dan ingin tahu, digabungkan dengan rasa ngeri, berkecamuk di dalam diriku ketika aku mulai membuka kartu-kartu arsip itu secara acak, menyelidiki isi arsip ini. Beberapa arsip membawa sukacita dan kenangan yang manis; yang lainnya membuat aku malu dan menyesal sedemikian hebat sehingga aku melirik lewat bahu aku apakah ada orang lain yang melihat arsip ini.

Arsip berjudul “Teman-Teman” ada di sebelah arsip yang bertanda “Teman-teman yang Aku Khianati”. Judul arsip-arsip itu berkisar dari hal-hal biasa yang membosankan sampai hal-hal yang aneh. “Buku-buku Yang Aku Telah Baca”. “Dusta-dusta yang Aku Katakan”. “Penghiburan yang Aku Berikan”. “Lelucon yang Aku Tertawakan”. Beberapa judul ada yang sangat tepat menjelaskan kekonyolannya: “Makian Buat Saudara-saudaraku” .

Arsip lain memuat judul yang sama s eka li tak membuat aku tertawa: “Hal-hal yang Aku Perbuat dalam Kemarahanku. “, “Gerutuanku terhadap Orangtuaku”. Aku tak pernah berhenti dikejutkan oleh isi arsip-arsip ini. Seringkali di sana ada lebih banyak lagi kartu arsip tentang suatu hal daripada yang aku bayangkan. Kadang-kadang ada yang lebih sedikit dari yang aku harapkan. Aku terpana melihat seluruh isi kehidupanku yang telah aku jalani seperti yang dir eka m di dalam arsip ini.

Mungkinkah aku memiliki waktu untuk mengisi masing-masing arsip ini yang berjumlah ribuan bahkan jutaan kartu? Namun setiap kartu arsip itu menegaskan kenyataan itu. Setiap kartu itu tertulis dengan tulisan tanganku sendiri. Setiap kartu itu ditanda-tangani dengan tanda tanganku sendiri..

Ketika aku menarik kartu arsip bertanda “Pertunjukan- pertunjukan TV yang Aku Tonton”, aku menyadari bahwa arsip ini semakin bertambah memuat isinya. Kartu-kartu arsip tentang acara TV yang kutonton itu disusun dengan padat, dan setelah dua atau tiga yard, aku tak dapat menemukan ujung arsip itu. Aku menutupnya, merasa malu, bukan karena kualitas tontonan TV itu, tetapi karena betapa banyaknya waktu yang telah aku habiskan di depan TV seperti yang ditunjukkan di dalam arsip ini.

Ketika aku sampai pada arsip yang bertanda “Pikiran-Pikiran yang Ngeres”, aku merasa merinding di sekujur tubuhku. Aku menarik arsip ini hanya satu inci, tak mau melihat seberapa banyak isinya, dan menarik sebuah kartu arsip. Aku terperangah melihat isinya yang lengkap dan persis. Aku merasa mual mengetahui bahwa ada saat di hidupku yang pernah memikirkan hal-hal kotor seperti yang dicatat di kartu itu. Aku merasa marah.

Satu pikiran menguasai otakku: Tak ada seorangpun yang boleh melihat isi kartu-kartu arsip in! Tak ada seorangpun yang boleh memasuki ruangan ini! Aku harus menghancurkan arsip-arsip ini! Dengan mengamuk bagai orang gila aku mengacak-acak dan melemparkan kartu-kartu arsip ini. Tak peduli berapa banyaknya kartu arsip ini, aku harus mengosongkannya dan membakarnya. Namun pada saat aku mengambil dan menaruhnya di suatu sisi dan menumpuknya di lantai, aku tak dapat menghancurkan satu kartupun. Aku mulai menjadi putus asa dan menarik sebuah kartu arsip, hanya mendapati bahwa kartu itu sekuat baja ketika aku mencoba merobeknya. Merasa kalah dan tak berdaya, aku mengembalikan kartu arsip itu ke tempatnya. Sambil menyandarkan kepalaku di dinding, aku mengeluarkan keluhan panjang yang mengasihani diri sendiri.

Dan kemudian aku melihatnya. Kartu itu berjudul “Orang-orang yang Pernah Aku Bagikan Injil”. Kotak arsip ini lebih bercahaya dibandingkan kotak arsip di sekitarnya, lebih baru, dan hampir kosong isinya. Aku tarik kotak arsip ini dan sangat pendek, tidak lebih dari tiga inci panjangnya. Aku dapat menghitung jumlah kartu-kartu itu dengan jari di satu tangan. Dan kemudian mengalirlah air mataku. Aku mulai menangis. Sesenggukan begitu dalam sehingga sampai terasa sakit. Rasa sakit itu menjalar dari dalam perutku dan mengguncang seluruh tubuhku. Aku jatuh tersungkur, berlutut, dan menangis. Aku menangis karena malu, dikuasai perasaan yang memalukan karena perbuatanku. Jajaran kotak arsip ini membayang di antara air mataku. Tak ada seorangpun yang boleh melihat ruangan ini, tak seorangpun boleh.

Aku harus mengunci ruangan ini dan menyembunyikan kuncinya. Namun ketika aku menghapus air mata ini, aku melihat Dia.

Oh, jangan! Jangan Dia! Jangan di sini. Oh, yang lain boleh asalkan jangan Yesus! Aku memandang tanpa daya ketika Ia mulai membuka arsip-arsip itu dan membaca kartu-kartunya. Aku tak tahan melihat bagaimana reaksi-Nya. Dan pada saat aku memberanikan diri memandang wajah-Nya, aku melihat dukacita yang lebih dalam dari pada dukacitaku. Ia nampaknya dengan intuisi yang kuat mendapati kotak-kotak arsip yang paling buruk.

Mengapa Ia harus membaca setiap arsip ini? Akhirnya Ia berbalik dan memandangku dari seberang di ruangan itu. Ia memandangku dengan rasa iba di mata-Nya. Namun itu rasa iba, bukan rasa marah terhadapku. Aku menundukkan kepalaku, menutupi wajahku dengan tanganku, dan mulai menangis lagi. Ia berjalan mendekat dan merangkulku. Ia seharusnya dapat mengatakan banyak hal. Namun Ia tidak berkata sepatah katapun. Ia hanya menangis bersamaku.

Kemudian Ia berdiri dan berjalan kembali ke arah dinding arsip-arsip. Mulai dari ujung yang satu di ruangan itu, Ia mengambil satu arsip dan, satu demi satu, mulai menandatangani nama-Nya di atas tanda tanganku pada masing-masing kartu arsip. “Jangan!” seruku bergegas ke arah-Nya. Apa yang dapat aku katakan hanyalah “Jangan, jangan!” ketika aku merebut kartu itu dari tangan-Nya. Nama-Nya jangan sampai ada di kartu-kartu arsip itu. Namun demikian tanpa dapat kucegah, tertulis di semua kartu itu nama-Nya dengan tinta merah, begitu jelas, dan begitu hidup. Nama Yesus menutupi namaku. Kartu itu ditulisi dengan darah Yesus! Ia dengan lembut mengambil kembali kartu-kartu arsip yang aku rebut tadi. Ia tersenyum dengan sedih dan mulai menandatangani kartu-kartu itu. Aku kira aku tidak akan pernah mengerti bagaimana Ia melakukannya dengan demikian cepat, namun kemudian segera menyelesaikan kartu terakhir dan berjalan mendekatiku. Ia menaruh tangan-Nya di pundakku dan berka ta, “Sudah selesai!”

Aku bangkit berdiri, dan Ia menuntunku ke luar ruangan itu. Tidak ada kunci di pintu ruangan itu. Masih ada kartu-kartu yang akan ditulis dalam sisa kehidupanku.

“Karena begitu besar kasih Tuhan akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)

GBU all… :))

Iklan

bertindak dan kuat

November 17, 2006

From: Dewi Kriswanti

BERTINDAK DAN KUAT
Bacaan: 2 Timotius 1:3-18

“Sebab Tuhan memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” (2 Timotius 1:7)
Secara rohani, kita adalah orang-orang yang menang dan merdeka. Ini berarti kita tidak perlu lagi ragu akan status tersebut. Tetapi ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dengan seksama agar kita bukan sekedar mengerti, tetapi dapat hidup sebagai orang percaya yang telah dimerdekakan sekaligus menjadi pemenang
1. Menang dan merdeka adalah hak orang percaya. Orang Kristen harus yakin terhadap apa yang Tuhan kerjakan dalam hidup mereka. Mengapa? Karena Alkitab katakan, “jadi apabila Anak itu memerdekakan, kamu benar-benar merdeka.” Berarti kita harus menikmatinya sejak bertobat. Karena pada saat kita bertobat maka saat itu juga Tuhan merubah status ‘manusia berdosa’ menjadi ‘manusia yang menang dan merdeka’ dan siap memperoleh keselamatan.
2. Menang dan merdeka hanya ada di dalam Tuhan Yesus. Tidak ada seorang pun yang dapat keluar dari dosa dan maut dengan kekuatannya sendiri untuk memperoleh keselamatan. Karena Alkitab berkata, di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang olehnya kita memperoleh keselamatan, selain di dalam nama Tuhan Yesus Kristus (Kis. 4:12). Mengapa? Karena manusia tidak dapat dengan kekuatanya sendiri meraih kemenangan dan kemerdekaan dari dosa dan maut. Tetapi Tuhan yang telah memberi kita kemenangan (I Kor. 15:57).
3. Menang dan merdeka harus dilanjutkan dengan hidup yang berbuah.
Bertumbuh itu penting namun apa artinya kalau tidak menghasilkan berbuah. Buah kehidupan bagi orang percaya adalah target dari suatu panggilan. Seperti kata firman Tuhan, “tetapi sekarang, setelah aku dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Tuhan, kamu memperoleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal (Rm. 6:22).
Setelah kita mengetahui bahwa kita adalah orang telah dimenangkan dan dimerdekakan oleh Tuhan Yesus Kristus, maka buah kehidupan yang sesuai dengan pertobatan harus ada. Hiduplah menjadi orang bebas dan merdeka dari tuduhan setan dan jangan mau diperbudak oleh iblis. Hiduplah sesuai dengan Injil Kristus sampai Yesus datang kembali. Rich

Doa: Tuhan Yesus, beri kami hati untuk dapat bertindak sesuai dengan firmanMu. Haleluay. Amin!
CIRI KHAS PRAJURIT KRISTUS YANG SEJATI ADALAH PANTANG MUNDUR

why God don’t give us the whole pictures?

November 12, 2006

Mengapa Tuhan tidak memberi kita gambar utuh?Maka mereka akan mendengarkan firman TUHAN yang begini: “Harus ini harus itu, mesti begini mesti begitu, tambah ini tambah itu!” – Yesaya 28:13.Tuhan menciptakan kita dengan suatu tujuan khusus. Setiap orang Kristen memiliki tugas (assignment) dalam hidupnya. Setiap kita adalah jawaban bagi seseorang di suatu tempat, di suatu saat, tetapi kita bukan jawaban bagi semua orang. Tidak ada seorang pun yang dapat mengerti tugas yang Tuhan berikan secara keseluruhan sekaligus. Semua tugas yang Tuhan berikan bersifat progresif. Tuhan selalu memberi instruksi langkah demi langkah, tahap demi tahap. Firman Tuhan bukan sekedar suatu gagasan, tetapi sebuah perintah/intruksi yang memiliki konsekuensi pada saat kita melakukannya.Perintah Tuhan: sedikit demi sedikit, langkah demi langkah, tambah ini tambah itu. Kita lihat bagaimana Filipus mendapat tugas dari Tuhan melalui Roh Kudus yang memberi instruksi tahap demi tahap, langkah demi langkah. Mari kita baca Kisah Para Rasul 8:26-40 mengenai Filipus dan sida-sida dari tanah Etiopia Kemudian berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, katanya: “Bangunlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza.” Jalan itu jalan yang sunyi. Lalu berangkatlah Filipus. Kisah Para Rasul 8:26-27.Filipus berangkat tanpa mengetahui mengapa dia harus berangkat, apa yang akan dihadapinya, siapa yang akan ditemuinya. Setelah Filipus berangkat, Tuhan kemudian memberi instruksi selanjutnya. Adalah seorang Etiopia, seorang sida-sida, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah. Sekarang orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kitab nabi Yesaya. – Lalu kata Roh kepada Filipus: “Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!” Filipus segera ke situ dan mendengar sida-sida itu sedang membaca kitab nabi Yesaya. Kata Filipus: “Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?” – Kisah Para Rasul 8:27-30.Tuhan kemudian menyuruh Filipus mendekati kereta di mana sida-sida dari negeri Etiopia itu sedang duduk dalam perjalanan pulang dari ibadah. Di situlah Filipus mengabarkan injil kepada sida-sida itu sampai akhirnya sida-sida itu memberi dirinya dibaptis oleh Filipus.Jawabnya: “Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?” Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya. Nas yang dibacanya itu berbunyi seperti berikut: Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya. Dalam kehinaan-Nya berlangsunglah hukuman-Nya; siapakah yang akan menceriterakan asal-usul-Nya? Sebab nyawa-Nya diambil dari bumi. Maka kata sida-sida itu kepada Filipus: “Aku bertanya kepadamu, tentang siapakah nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?” Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya. Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: “Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?” (Sahut Filipus: “Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh.” Jawabnya: “Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.”) Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. – Kisah Para Rasul 8:31-38.Setelah tugas Filipus terhadap sida-sida itu selesai, Tuhan melarikan Filipus ke tempat lain (Asdod) untuk suatu tugas lain. Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita. Tetapi ternyata Filipus ada di Asdod. Ia berjalan melalui daerah itu dan memberitakan Injil di semua kota sampai ia tiba di Kaisarea. Kisah Para Rasul 8:39-40. Filipus hidup dipimpin oleh Roh. Tuhan mengatur setiap langkah Filipus dan setiap kali menerima instruksi, Filipus segera memberi respon dengan melakukannya.Semua ini ditulis oleh Tuhan secara spesifik agar kita dapat belajar dari pengalaman Filipus. Anda harus memberi waktu kepada Tuhan, karena Tuhan bekerja sedikit demi sedikit. Namun sayangnya, kebanyakan anak Tuhan ingin segala sesuatu serba cepat, kalau bisa instan. “But the word of the Lord was unto them precept upon precept, line upon line, here a little, and there a little…”Mengapa perintah tidak diberikan sekaligus? Mengapa Tuhan memberikan instruksi kepada kita sedikit demi sedikit, tahap demi tahap dalam melakukan tugas yang Tuhan berikan? Mengapa Tuhan tidak memberi instruksi sekaligus sampai seluruh tugas selesai? Karena Tuhan lebih mementingkan hubungan intim kita dengan-Nya daripada kesuksesan dan berkat-berkat materi yang dapat Ia berikan kepada kita. Tuhan mau kita mengandalkan Dia dalam segala hal.Tuhan tidak mau kesuksesan Anda terjadi tanpa Dia. Seluruh kesuksesan yang Anda alami haruslah dengan Dia dan untuk kemuliaan-Nya. Oleh sebab itu Tuhan sangat meresponi doa yang sifatnya mengejar (pursuit). Dia mau kita bergaul intim dengan-Nya seperti Musa dan Henokh. Bergaul intim dengan-Nya, berpikir seperti Tuhan berpikir.Tak ada orang yang bisa masuk ke dalam destinasi yang Tuhan sediakan baginya tanpa terlebih dahulu orang itu berdamai dengan Allah. Namun Allah yang kita sembah adalah Allah yang gentle dan sopan; Allah yang memiliki aturan dan etika. Ia tidak akan masuk dalam kehidupan Anda jika Anda tidak mengijinkan dan mengundang-Nya.Jika Anda belum pernah mengundang Yesus masuk dalam hatimu, menjadi Tuhan dan Juruselamat pribadi, mari ikuti doa ini: DOA KESELAMATAN. Ketika Anda berdamai dengan Allah dan mengundang-Nya masuk dalam kehidupan Anda, Anda lahir baru. Saat itu, Tuhan tidak lagi melihat Anda sebagai orang berdosa, tetapi Ia melihat Anda sebagai garam dan terang. Ia melihat hati Anda menyala-nyala dengan api Roh Kudus yang rindu melihat jiwa-jiwa diselamatkan dan dipulihkan hubungannya dengan Tuhan.Pandangan-Nya terhadap Anda tidak pernah berubah, tetapi cara pandang Anda terhadap diri Anda bisa berubah karena pendapat dan perkataan orang. Bagaimana Anda melihat diri Anda, maka begitulah Anda (Amsal 23:7). Jangan ijinkan orang lain mendikte kehidupan Anda, karena itu setiap hari Anda harus melihat diri Anda seperti Tuhan melihat Anda. Satu-satunya yang dapat membuat hidup Anda aman dan berhasil adalah jika Anda memeluk status/identitas Anda di dalam Kristus. Cara berpikir Anda akan berubah jika Anda selalu bergaul intim dengan-Nya.Tuhan mencari pemburuDia memberi upah pada yang tekun memburu-Nya. Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! – 1 Korintus 9:24Tuhan sangat tahu bahwa umat-Nya bersifat seperti anak kecil, karena itu Tuhan suka memberi upah untuk memotivasi kita mentaati Dia. Kita belajar mengenal Tuhan, belajar mentaati-Nya dan Tuhan menjanjikan upah di setiap ketaatan kita. Lama kelamaan hal ini akan membangun roh Anda, membangun karakter Anda dan membangun gaya hidup Anda yang berjalan dipimpin Roh.Ketika Anda sudah berjalan dipimpin Roh, Anda akan mencapai titik di mana Anda berkata: “Diberi upah atau tidak, hal itu tidak mengganggu saya. Saya mengasihi Tuhan dan mau melayani Dia. Saya mau patuh kepada perintah-perintah-Nya karena Dia adalah Tuhan.”Ingat Firman Tuhan yang berkata bahwa “Orang buta tidak bisa menuntun orang buta”, artinya Anda tidak bisa dituntun oleh seseorang menuju ke suatu tempat bila orang yang menuntun Anda belum pernah ke sana.Bergaul intim dengan TuhanTuhan kita suka diburu oleh umat-Nya. Karena Tuhan menginginkan hubungan pribadi yang intim dengan kita. Berdoa syafaat adalah mengejar Tuhan. Pada waktu Anda bersyafaat, Anda sedang memburu Allah dan janji-janji-Nya. Tuhan suka memberi upah pada orang yang tekun memburu-Nya. Tuhan memotivasi dengan upah supaya kita tekun menjalani Firman. Tetapi Tuhan lebih mementingkan keintiman ketika kita mengejar Dia dengan tekun daripada upah yang akan diberikan-Nya.Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak. – 1 Korintus 9:24-27.Berdoa dengan sifat memburuMurid-murid Yesus tidak pernah meminta Dia untuk mengajarkan mereka cara memperoleh berkat atau cara berkhotbah. Mereka meminta Yesus mengajarkan cara berdoa. Mereka menyadari bahwa kunci keberhasilan Yesus selama 33½ tahun memakai tubuh manusia berdosa di bumi adalah hubungan intim-Nya dengan Bapa di surga. Jadi mereka bertanya bagaimana hubungan itu? Di Lukas 11:1-13 kita baca mengenai murid-murid Yesus yang bertanya tentang cara berdoa kepada-Nya.Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.”Jawab Yesus kepada mereka: “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.” Lalu kata-Nya kepada mereka: “Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara. Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya.Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”Ayat-ayat di atas menggambarkan sikap memburu Allah tanpa putus asa. Allah selalu meresponi pemburu. Anda harus memburu janji Allah seperti seseorang yang memburu harta kekayaan dunia. Kalau yang dijanjikan dunia bersifat sementara, maka kita harus lebih sungguh-sungguh lagi mengejar janji Allah yang bersifat kekal.Dibutuhkan ketekunan dalam berdoa. Tuhan lebih mementingkan karakter kita daripada berkat yang akan diberikan-Nya kepada kita. Ini merupakan strategi Tuhan supaya kita mengejar (pursue) Dia. Kita tidak perlu memelintir tangan Tuhan supaya Dia melakukan apa yang Anda mau, karena Tuhan lebih rindu untuk menggenapi kehendak-Nya daripada Anda. Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga. – 2 Timotius 2:5Berdoa dengan tujuanBelajar mengenai “The Secret Place” dari Leonard Ravenhill, seorang pendoa syafaat yang membangkitkan kebangunan rohani dan penulis buku “The Awakening”. Hanya orang yang masuk ke tempat rahasia-Nya akan tahu hati dan keinginan Tuhan. Setelah Anda mengetahui tempat rahasia Tuhan dan hati Tuhan, maka Anda akan dapat berdoa dengan tujuan dan target.Tuhan mau kita diam di dalam Secret Place- Nya. Tuhan berjanji di Mazmur 25:14 bahwa TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka. Pendoa syafaat itu digambarkan oleh asisten Suzette Hattings seperti seseorang yang pergi berperang dengan busur berisi anak-anak panah di punggungnya. Anda tidak bisa berperang dengan mengambil lima anak panah dan membidiknya sekaligus. Pasti tidak ada yang kena sasaran. Anda harus memilih target yang Tuhan mau. Fokus pada target itu. Satu anak panah untuk satu sasaran.Pada waktu Anda bersyafaat artinya Anda sedang mengejar Tuhan. Jika kita mengejar Tuhan maka sukses tidak bisa dielakkan, tetapi bila Anda mengabaikan Tuhan dalam segala upaya Anda, maka kegagalan pun tidak bisa dielakkan. “If you ignore God, failure is in evitable but if you pursuit God, success is inevitable”. Tuhan harus ada di depan kita.Jika Anda mengalami kegagalan sebelumnya, sekarang saatnya Anda harus mengambil sikap positif. Pelajari letak kegagalan Anda dan mulai ambil langkah yang baru dengan sikap yang baru. karena Allah kita adalah Allah yang merestorasi. Selalu ada jalan jika Anda mencari Dia. Sampai kita benar-benar tekun mencari dan mengejar Dia, maka kehidupan kita tidak akan berubah. Kejar Tuhan, karena Tuhan suka memberi upah pada yang tekun memburu-Nya.

aku tak perlu ingin karena Tuhan gembalaku

Oktober 22, 2006

Aku tak perlu ingin

* Mazmur 23
23:1 Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
23:2 Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;
23:3 Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
23:4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
23:5 Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.
23:6 Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.

Mazmur 23 adalah syair favorit sepanjang masa, cocok dibacakan di segala macam keadaan. Kita banyak mendengar pasal ini dibacakan di acara-acara kebaktian ucapan syukur, pindah rumah, persekutuan, perkawinan, bahkan di upacara penguburan orang mati. Salah satu episode terbaik film serial klasik “Little House on the Prairie” yang berjudul “The Lord Is My Shepherd”, Charles & Caroline Ingalls bergandeng tangan mengucapkan Mazmur 23 mencoba untuk tegar menghadapi kematian bayi laki-laki mereka. Mereka tidak membacakan doa mohon kekuatan, atau meminta suatu hal yang lain, tetapi didalam keadaannya yang sedang susah itu mereka mengingat-ingat bahwa TUHAN tetaplah gembala yang baik.

Daud menuliskan pengalaman pribadinya dengan TUHAN, dimana ia tergantung sepenuhnya pada TUHAN seperti domba pada gembala. Ia menulis ketenangan domba yang berbaring di rumput hijau, di tepi danau yang tenang, selamat didalam perlindungan, dan seterusnya. Apa yang ia tuliskan dalam seluruh pasal 23 ini dilatar-belakangi oleh pengalaman yang panjang hubungannya dengan TUHAN Sang Gembala yang menyediakan kebutuhan-kebutuhan hidup dan yang melindunginya dari rasa takut dan bahaya.

Ayat 1 ditulis “YEHOVAH ROHI LO EKHSAR” (KJV, The LORD is my shepherd; I shall not want ; NIV, The LORD is my shepherd, I shall not be in want). Frasa ke-dua saya terjemahkan bebas “aku tak perlu ingin”. Betapa indahnya ketika kita ada didalam titik kedekatan dengan Allah, persis seperti yang Daud tulis dalam ayat 1 ini.

Tidaklah salah jika seorang mempunyai keinginan atau cita-cita, berdoa memohon kesuksesan, minta lulus ujian, minta pekerjaan, minta jodoh, minta keturunan, minta sembuh, minta rejeki, mohon pertolongan, minta rumah, minta apa saja. Apalagi ada ayatnya, bukan? (Reff. Matius 7:7; Lukas 11:9; Yohanes 15:7). Namun keinginan-keinginan yang diucapkan dalam doa itu berkaitan dengan “need & want”. Dan sering kita tidak menyadari bahwa “not everything we want is a need”, dan sering kita ragu akan keinginan dan kebutuhan : “do I really need this or do I just want it? “.

“Aku tak perlu ingin” adalah penyataan bahwa Daud telah mencapai titik kedekatan dengan Allah – sebegitu dekatnya – sehingga kita dapat menarik maknanya : “Therefore I shall not want any thing, I’m not not afraid of wanting any thing, because God is my Shepherd! “.

Mohon jangan disalah artikan, dalam tahap ini seseorang itu mencapai titik stagnan, skeptis, apatis atau sejenisnya. Namun di dalam tahap yang telah dialami oleh Daud ini, seorang tidak lagi “perlu ingin sesuatu” sebab apa yang diperlukan telah ia terima. “Aku tak perlu ingin” juga tidak bermakna bahwa kita akan menganggur saja, menunggu berkat brojol turun dari langit. Tetapi dalam tahap ini, apabila kita melakukan pekerjaan, kita mengerjakannya karena pekerjaan itu datang dari Allah, atau datang atas kehendak Allah, dan kita mengerjakannya dengan tanggung-jawab sebagai anak-anak Allah. Dan sepenuhnya kita akan melakukannya karena cinta kepada Allah, sebagai wujud terima-kasih dan syukur kepada Allah yang juga selalu bekerja. Kedekatan dalam tahap yang seperti Daud alami ini juga akan membawa kita pada suatu keadaan dimana kita tidak perlu kuatir akan kebutuhan, karena TUHAN Sang Gembala tahu apa yang kita butuhkan.

Hello world!

Oktober 19, 2006

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!